Newest Post
Archive for Maret 2016
Pompeii
Pompeii adalah sebuah kota zaman Romawi kuno yang telah menjadi puing dekat kota Napoli dan sekarang berada di wilayah Campania, Italia. Pompeii
hancur oleh letusan gunung Vesuviuspada 79 M. Debu
letusan gunung Vesuvius menimbun kota Pompeii dengan segala isinya sedalam
beberapa kaki menyebabkan kota ini hilang selama 1.600 tahun sebelum ditemukan
kembali dengan tidak sengaja. Semenjak itu penggalian kembali kota ini
memberikan pemandangan yang luar biasa terinci mengenai kehidupan sebuah kota
di puncak kejayaan Kekaisaran Romawi.
Lapisan debu tebal
menutupi dua buah kota yang lokasinya dekat dengan kaki gunung Vesuvius,
sehingga kedua kota ini menjadi hilang dan terlupakan. Kemudian kota
Herculaneum ditemukan kembali pada 1738, dan
Pompeii pada 1748. Kedua
kota ini digali kembali dari lapisan debu tebal dengan membebaskan semua
bangunan-bangunan dan lukisan dinding yang masih utuh.
Catatan
sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan
dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi
perzinahan atau prostitusi.
Perilaku kebiadaban masyarakat kota pompeii merupakan sebuah simbol dari
degradasi akhlak yang dialami oleh kekaisaran bangsa romawi. Dimana perilaku
masyarakat kota pompeii mirip dengan perilaku kaum sodom.
Kota pompeii adalah pusat perzinaan dan homoseks masa lalu. Catatan sejarah
telah memperlihatkan bahwa kota pompei ternyata merupakan pusat kemaksiatan
terbesar.
Pada tahun 24 Agustus 79 Masehi, gunung Vesuvius meletus diiringi hujan
debu, awan panas serta lava pijar. Hanya sebagian orang yang segera menyelamatkan
diri saat letusan pertama, berhasil selamat.
Awan panas yang muncul setelah kubah lava runtuh memanggang Pompeii, dan
hujan abu vulkanik mengubur penduduk hidup-hidup. Keterkejutan terlihat jelas
dalam ekspresi mayat-mayat membatu yang ditemukan di Pompeii.
Desa Dukuh Legetang
Dukuh Legetang adalah
sebuah daerah di lembah pegunungan Dieng, sekitar 2 km ke utara dari kompleks
pariwisata Dieng Kabupaten Banjarnegara. Dahulunya masyarakat dukuh Legetang
adalah petani-petani yang sukses sehingga kaya. Berbagai kesuksesan duniawi
yang berhubungan dengan pertanian menghiasi dukuh Legetang. Misalnya apabila di
daerah lain tidak panen tetapi mereka panen berlimpah. Kualitas buah/sayur yang
dihasilkan juga lebih dari yang lain.
Pada suatu malam turun
hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang tenggelam dalam kemaksiatan.
Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara “buum”, seperti suara benda
yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang
yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung
Pengamun-amun sudah terbelah dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang.
Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah,
tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya
mati. Gegerlah kawasan dieng… Seandainya gunung Pengamun-amun sekedar longsor,
maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Akan tetapi kejadian ini
bukan longsornya gunung.
Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang,
yang sampai sekarang masih ada. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu
terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang.
Sodom
Kota Sodom dan Gomorrah adalah dua kota yang dikaitkan dengan kisah Nabi
Luth dan kaumnya.
Paling tidak, dalam pandangan Islam, Kristen, Yahudi, diyakini bahwa dua
kota ini memang pernah ada, dan kemudian dihancurkan Tuhan akibat begitu
besarnya kemaksiatan yang dilakukan oleh penduduknya.
Kota inilah yang daripadanya lahir
istilah sodomy, and sodomite. Bahkan, dalam bahasa Ibrani, Sodom itu sendiri
berarti terbakar, dan Gomorrah berarti terkubur.
Sekitar 4000 tahun yang lalu, Sodom dan
Gomora menyandang reputasi sebagai kaum yang melegalkan berbagai penyimpangan
seksual.
Walau Kitab suci tak pernah menyebutkan
apa perbuatan mereka secara mendetil sehingga bisa bernasib seperti itu.
Walaupun demikian, Kitab suci sangat jelas memberikan penggambaran mengenai
hukuman yang mereka terima dari Sang Pencipta.
Cerita mengenai Sodom dan Gomora ini terjadi di zaman Ibrahim
a.s, berabad-abad sebelum Musa a.s keluar dari tanah Mesir.
Tak ada yang menemukan petunjuk kota
seperti itu pernah ada, sebab tak pernah ada orang yang sungguh-sungguh
mencari-nya. Hingga pada tahun 1924, Ahli purbakala bernama William Albright
berangkat menuju ke Laut Mati untuk melakukan penelitian disana.
Beberapa orang yang bersamanya jelas mencari keberadaan sisa-sisa
Sodom dan Gomora. Mereka mengitari pantai tenggara dari laut mati hingga mereka
ahirnya tiba di sutus purbakala Bab-edh-dhra.
Bab-edh-dhra (dibaca : Babhedra),
merupakan situs jaman perunggu, namun tak ada petunjuk jika situs itu meupakan
suatu kota. Tampaknya daerah itu merupakan suatu daerah pemakaman. Namun
Albright tak memiliki sumber daya untuk menggalinya.
Jadi hampir 50 tahun berlalu sebelum ada yang kembali ke situs
tersebut untuk melakukan penggalian. Ahli Purbakala Paul Lapp memimpin
penggalian di tahun 1967, dan Thomas Schaub termasuk salah satu penggalinya.
Bab-edh-dhra merupakan makam terbesar
khas jaman perunggu yang mereka gali, panjangnya 15 meter dan lebarnya 7 meter.
Pembinasaan Sodom dan Gomora diinterpretasikan terjadi melalui bencana
geologi dengan urutan :
1. Pergerakan Sesar Moab
2. Gempa dengan magnitude 7,0+ yang menghancurkan kota-kota dan sekitarnya
serta likuifaksi yang menenggelamkan sebagian wilayah kota-kota,
3. Erupsi gunung garam dan gunung lumpur yang meletuskan halit, anhidrit,
batu-batuan, lumpur, aspal, bitumen, dan belerang,
4. Kebakaran kota-kota dan sekitarnya karena material hidrokarbon yang
diletuskan terbakar sehingga menjadi hujan api dan belerang.
Bencana katastrofik ini telah meratakan
Sodom dan Gomora dan menewaskan seluruh penduduknya kecuali Luth dan dua
putrinya.
Api dari langit yang menghujani Sodom dan Gomora bukan fenomena
astroblem (seperti meteor), melainkan fenomena katastrofi (malapetaka) geologi
berupa aspal dan bitumen yang terbakar serta belerang yang berasal dari letusan
gunung garam dan gunung lumpur.
Source:
Source:
http://sumsel.tribunnews.com/2015/07/06/kisah-hancurnya-kota-sodom-dan-gomorrah-yang-legalkan-penyimpangan-seksual?page=4
https://sunniy.wordpress.com/2007/12/01/desa-yang-musnah-di-daerah-dieng/
http://sumsel.tribunnews.com/2015/06/06/inilah-kisah-tragis-kota-pompeii-yang-terkenal-dengan-kemaksiatannya?page=2
https://id.wikipedia.org/wiki/Pompeii
Kebudayaan
Budaya sunda adalah budaya yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat sunda. Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjunjung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat Sunda adalah periang, ramah-tamah, mura senyum, lemah-lembut dan sangat menghormati orang tua. Itulah cermin budaya masyarakat Sunda.
Etos budaya
Kebudayaan
Sunda termasuk salah satu kebudayaan tertua di Nusantara. Kebudayaan
Sunda yang ideal kemudian sering kali dikaitkan sebagai kebudayaan masa Kerajaan
Sunda. Ada beberapa ajaran dalam budaya Sunda tentang jalan menuju keutamaan
hidup. Etos dan watak Sunda itu adalah cageur, bageur, singer dan
pinter, yang dapat diartikan sehat, baik, mawas, dan cerdas. Kebudayaan
Sunda juga merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi
bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu dilestarikan. Sistem
kepercayaan spiritual tradisional Sunda adalah Sunda Wiwitan yang
mengajarkan keselarasan hidup dengan alam. Kini, hampir sebagian besar
masyarakat Sunda beragama Islam, namun ada beberapa yang tidak beragama
Islam, walaupun berbeda namun pada dasarnya seluruh kehidupan ditujukan untuk
kebaikan di alam semesta.
Provinsi Jawa
Barat, secara geografis, terletak pada posisi 5o50’ - 7o50’ Lintang Selatan dan
104o48’ - 108o48’ Bujur Timur, dengan batas wilayah : sebelah Utara, berbatasan
dengan Laut Jawa dan Provinsi DKI Jakarta; sebelah Timur, berbatasan dengan
Provinsi Jawa Tengah; sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia; dan
sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Banten.
Luas wilayah
Provinsi Jawa Barat meliputi wilayah daratan seluas 3.710.061,32 hektar dan
garis pantai sepanjang 755,829 km. Daratan Jawa Barat dapat dibedakan atas
wilayah pegunungan curam (9,5% dari total luas wilayah Jawa Barat) terletak di
bagian Selatan dengan ketinggian lebih dari 1.500 m di atas permukaan laut
(dpl); wilayah lereng bukit yang landai (36,48%) terletak di bagian Tengah
dengan ketinggian 10 - 1.500 m dpl; dan wilayah dataran luas (54,03%) terletak
di bagian Utara dengan ketinggian 0 – 10 m dpl. Tutupan lahan terluas di Jawa
Barat berupa kebun campuran (22,89 % dari luas wilayah Jawa Barat), sawah
(20,27%), dan perkebunan (17,41%), sementara hutan primer dan hutan sekunder di
Jawa Barat hanya 15,93% dari seluruh luas wilayah Jawa Barat.
Iklim di Jawa
Barat yaitu tropis, dengan suhu rata-rata berkisar antara 17,4 – 30,7°C dan
kelembaban udara antara 73–84%. Data BMKG menyebutkan bahwa sepanjang tahun
2008, turun hujan selama 1-26 hari setiap bulannya dengan curah hujan antara
3,6 hingga 332,8 mm.
Jawa Barat
dialiri 40 sungai dengan wilayah seluas 37.175,97 km2. Jawa Barat juga memiliki
1.267waduk/situdengan potensi air permukaan lebih dari 10.000juta m3.Air
permukaan tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan industri, pertanian, dan air
minum.Terdapat peningkatan jumlah perusahaan yang aktif memanfaatkan air
permukaan menjadi 625 perusahaan dari 606 perusahaan pada tahun 2007.
Secara administratif, Provinsi Jawa Barat terdiri dari 17
kabupaten dan 9 kota; 520 kecamatan; 5.245 desa dan 626 kelurahan.
Ciri utama daratan Jawa
Barat adalah bagian dari busur kepulauan gunung api (aktif dan tidak aktif)
yang membentang dari ujung utara Pulau Sumatera hingga ujung utara Pulau
Sulawesi. Daratan dapat dibedakan atas wilayah pegunungan curam di selatan
dengan ketinggian lebih dari 1.500 m di atas permukaan laut, wilayah lereng
bukit yang landai di tengah ketinggian 100 1.500 m dpl, wilayah dataran luas di
utara ketinggian 0 . 10 m dpl, dan wilayah aliran sungai.
Bahasa
Dalam
percakapan sehari-hari, etnis Sunda banyak menggunakan bahasa Sunda. Namun kini
telah banyak masyarakat Sunda terutama yang tinggal di perkotaan tidak lagi
menggunakan bahasa Sunda dalam bertutur kata. Seperti yang terjadi di
pusat-pusat keramaian kota Bandung,Bogor, dan Tangerang, dimana
banyak masyarakat yang tidak lagi menggunakan bahasa Sunda.
Ada
beberapa dialek dalam bahasa Sunda, mulai dari dialek Sunda-Banten,
hingga dialek Sunda-Jawa Tengahan yang mulai tercampur bahasa Jawa. Para pakar
bahasa biasanya membedakan enam dialek berbeda. Dialek-dialek ini adalah:
·
Dialek Barat (Bahasa
Sunda Banten)
·
Dialek Utara
·
Dialek Selatan
(Priangan)
·
Dialek Tengah Timur
·
Dialek Timur Laut
(Bahasa Sunda Cirebon)
·
Dialek Tenggara
Dialek
Barat dipertuturkan di daerah Banten dan Lampung. Dialek Utara mencakup daerah
Sunda utara termasuk kota Bogor dan beberapa daerah Pantura. Lalu dialek
Selatan adalah dialek Priangan yang mencakup kota Bandung dan sekitarnya.
Sementara itu dialek Tengah Timur adalah dialek di Kabupaten Majalengka dan
Indramayu. Dialek Timur Laut adalah dialek di sekitar Cirebon dan Kuningan,
juga di beberapa kecamatan di Kabupaten Brebes dan Tegal, Jawa Tengah. Dan
akhirnya dialek Tenggara adalah dialek sekitar Ciamis, juga di beberapa
kecamatan di Kabupaten Cilacap dan Banyumas, Jawa Tengah.
Mata Pencaharian
Mayoritas masyarakat Sunda berprofesi
sebagai petani, dan berladang, ini disebabkan tanah Sunda yang subur.Sampai
abad ke-19, banyak dari masyarakat Sunda yang berladang secara
berpindah-pindah.
Selain bertani, masyarakat Sunda
seringkali memilih untuk menjadi pengusaha dan pedagang sebagai mata
pencariannya, meskipun kebanyakan berupa wirausaha kecil-kecilan yang
sederhana, seperti menjadi penjaja makanan keliling,
membuka warung atau rumah makan, membuka toko barang kelontong dan
kebutuhan sehari-hari, atau membuka usaha cukur rambut, di daerah perkotaan ada
pula yang membuka usaha percetakan, distro, cafe, rental mobil dan jual beli
kendaraan bekas.
Sistem Sosial Suku Sunda
Sistem kekerabatan yang digunakan adalah sistem kekerabatan
parental atau bilateral, yaitu mengikuti garis keturunan kedua belah pihak
orang tua yaitu bapak dan ibu. Dalam keluarga sunda, bapak yang bertindak
sebagai kepala keluarga. Ikatan kekeluargaan yang kuat dan peranan agama Islam
yang sangat mempengaruhi adat istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku
sunda.
Dalam bahasa sunda dikenal pula kosa
kata sejarah dan sarsilah (silsilah, silsilah) yang maknanya kurang lebih sama
dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam bahasa Indonesia. Makna sejarah
adalah susun galur atau garis keturunan. Pada saat menikah, orang sunda tidak
ada keharusan menikah dengan keturunan tertentu asal tidak melanggar ketentuan
agama. Setelah menikah, penggantin baru bisa tinggal di tempat kediaman istri
atau suami tetapi pada umumnya mereka memilih tinggal di tempat baru atau
neolokal. Dilihat dari sudut ego, orang sunda mengenal istilah tujuh generasi
keatas dan tujuh generasi ke bawah, antara lain yaitu :
Tujuh generasi keatas :
Kolot, Embah, Buyut, Bao,
Janggawareng, Udeg-udeg, Gantung Siwur
Tujuh Generasi Kebawah :
Anak, Incu, Buyut, Bao, Janggawareng,
Udeg-Udeg, Gantung Siwur
Source
:
http://rseptaradita.blogspot.co.id/2013/12/7-unsur-kebudyaan-suku-sunda.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sunda
https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Sunda
Pengertian Ilmu Budaya
Dasar
Ilmu budaya dasar tentu berbeda dengan
pengetahuan budaya. Pengetahuan budaya disini yaitu mengkaji manusia sebagai
mahluk berbudaya dalam masalah nilai-nilai manusia (homo
humanus).
Sedangkan ilmu
budaya dasar adalah pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang
dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Definisi Ilmu Budaya Dasar
Di Indonesia istilah Ilmu Budaya Dasar dikembangkan sebagai pengganti istilah
basic “humanitiesm” atau
bahasa Inggrisnya “the Humanities” yang artinya manusia,
berbudaya dan halus dan dalam bahasa latin yaitu “humnus“.
Diharapkan seseorang akan menjadi lebih berbudaya, lebih halus dan lebih manusiawi
dengan mempelajari the humanities.
Perbedaan IBD dan IPS
IBD (Ilmu Budaya Dasar):
- Ilmu budaya dasar mengarah pada pembentukan sikap dan kepribadian
- Ilmu tingkatan lanjut yang mempelajari secara khusus tentang budaya dan kebudayaan seperti hubungan antara manusia dengan budaya, dan asal mula terciptanya kebudayaan serta macam macam kebudayaan yang ada pada manusia
- Dipelajari pada tingkat perguruan tinggi atau perkuliahan
IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial):
- Ilmu pengetahuan sosial mengarah pada pembentukan pengetahuan dan keterampilan intelektual
- Ilmu yang mempelajari tentang kehidupan sosial dan hubungan manusia dengan lingkungan sosial disekitarnya, mencakup area yang luas karena tiap divisi memiliki cabang tersendiri, seperti ekonomi memiliki cabang akuntansi dan sebagainya
- Ilmu ini dipelajari pada tingkat sekolah seperti SD, SMP, dan SMA/SMK
Tokoh Pencetus
- Pakar kebudayaan Malinowsky :
menyatakan bahwa kesamaan budaya dengan peradaban dengan catatan bahwa kata peradaban
lebih mengacu pada aspek khusus dari kemajuan kebudayaan
- Menurut Koentjaraningrat istilah
peradaban biasanya dipakai untuk menunjukkan bagian” dan unsur” kebudayan yang
halus dan indah seperti : Kesenian, imu pengetahuan dan sopan santun serta
sistem pergaulan yang kompleks.
IBD Termasuk Ilmu Pengetahuan
Karena mempelajari banyak kategori, seperti :
- · Teologi
- · Filsafat
- · Hukum
- · Sejarah
- · Filologi
- · Bahasa, Budaya & Linguistik (Kajian bahasa)
- · Kesusastraan
- · Kesenian
- · Psikologi